Backpacker ke Lombok dari Bali - Blogger

Visit Lombok
My Trip to Lombok
Kami memulai perjalanan kami dari Kosan kami tercinta di Denpasar, Bali. Perjalanan menyebrang dari pulau Bali ke pulau Lombok adalah pengalaman kami yang pertama. Perjalanan dimulai jam 7 pagi, kami berlari mengejar matahari ke timur dan tiba di pelabuhan penyebrangan Padang Bai di kabupaten Karangasem, Bali pukul 9.30 pagi. Biaya menyebrang dari pulau Bali ke pulau Lombok dihitung per kendaraan. Kami mengendarai motor. Satu motor biayanya 112 ribu rupiah. Jadi Biaya penyebrangannya adalah 56 ribu per orang. Perjalanan dari Pelabuhan Padang Bai ke Pelabuhan Lembar, Lombok adalah sekitar 5 jam menggunakan Ferry. Kapal Ferry yang kami gunakan dilengkapi fasilitas yang bagus. Ruangan AC untuk penumpang, tempat sholat, dan WC yang bersih. Kalau gak mau di dalam ruangan ber-AC bisa ke dek atas menikmati angin dan menikmati suhu yang hangat. Kalau mau sembari ngisi perut di ruang penumpang terdapat cafeteria. Harga pop mie (tentunya udah disiram dengan air panas, hehe) 15 ribu dan kopi 10 ribu. Perjalanan tidak akan membosankan ditemani dengan sharing dan candaan teman serta buku yang menginspirasi. Thanks to Bro Yogi udah jadi travelmate-ku di sini. Di Lombok kami nginap di rumah keluarga, jadi biaya untuk penginapan bisa diminimalisir. Sepanjang perjalan dapat ditemukan penjual kopi kalau lagi ngantuk saat membawa kendaraan. Harga kopi panasnya berkisar 4 ribuan. And Satu lagi, Lombok terkenal dengan kota seribu masjid, di sepanjang jalan kita bisa menemukan masjid untuk membasuh jiwa dengan air wudhu. Asik.

Hari Pertama (3 April 2017)

Kami nginap di Praya, Lombok Tengah. Perjalanan hari pertama kami adalah menuju ke arah Selatan. First stop adalah dusun Sasak Sade. Terletak di Jalan Kuta Lombok, gerbang desa ini sangat mudah dilihat dan menewarkan pengalaman unik mengamati struktur rumah adat dan wawasan suku sasak, suku asli yang mendiami pulau Lombok.


Rembitan, Pujut, Central Lombok Regency, West Nusa Tenggara 83573, Indonesia
Gerbang Desa Adat Dusun Sade, Lombok tengah  
Tarif masuk di area wisata socio-culture ini tidak ditentukan. Pengunjung bisa membayar se-ikhlasnya. Pengunjung akan mengisi buku tamu. Disitu kita bisa melihat jumlah pengunjung yang datang dan nilai sumbangsi mereka. Dengan cepat kami bisa merata-ratakan, satu pengunjung mendonasikan 10 ribu. Dekat dari tempat pengisian buku tamu, pengunjung akan ditawari mau ditemani oleh tour guide atau ngak. Lagi-lagi, tarif dari tour guide ini tidak ditentukan dan dibayar se-ikhlasnya. Cukup tricky, karena kali ini tanpa buku catatan. Haha. Dan kami memutuskan untuk jalan tanpa tour guide. Meskipun tanpa tour guide, kami berhasil mendapat informasi dari lokasi adat ini oleh ibu yang menjual hasil tenun di area ini. Well, di sepanjang lorong terdapat banyak pedagang yang menjual hasil tenun. Satu kios ke kios yang lain menjual produk yang hampir sama. Jualannya bisa ditawar. Again, hampir tidak terdapat fixed price. Mereka sangat ramah dan mau berbagi cerita dengan kita.

Warga dari desa adat terkenal dengan kejujurannya. Kaca mataku tertinggal, Alhamdulillah saya bisa mendapatkannya kembali berkat bantuan warga adat dusun. Terima kasih banyak.

Kompleks Runah Adat Dusun Sade Lombok
Rembitan, Pujut, Central Lombok Regency, West Nusa Tenggara 83573, Indonesia
Tempat Penyimpanan Padi Tradisional Suku Sasak

Marchandise di Dusun Sade, Lombok

Warga dusun Sade sedang menenun kain sondet, khas Lombok
Rumah adat suku Sasak NTB
Sisi dalam rumah adat suku sasak berdinding dan berlantai tanah liat
And di area ini, parking fee-nya gratis. Oh iyah, ternyata saya lupa mengambil kunci motor saat masuk ke desa adat. Tapi Alhamdulillah motornya gak kemana-mana. Salut buat bapak yang jaga motor kami.

Destinasi kedua kami adalah pantai Kuta Mandalika. Kita hanya membayar biaya parkir untuk spot kali ini yakni sebesar 5 ribu. Pantai yang indah dengan ombak yang tidak besar. Sangat recommended untuk berenang dan menghabiskan waktu. Untuk saat-saat tertentu pantai ini sangat ramai namun dengan pemandangan pantai berair yang jernih dengan tebing dan bukit yang hijau, sangat layak pantai ini menjadi destinasi yang ramai di Lombok. Disini kita bisa berayun manja diatas ombak yang melambai kedatangan kami.

Kuta Mandalika Lombok NTB
Pantai Kuta Lombok

Pantai Kuta Mandalika Lombok NTB
Ayunan Manja Pantai Kuta Lombok
Destinasi terakhir adalah tanjung Ann. Jalanan menuju tanjung Ann masih belum bagus. Beraspal namun bumpy. Di beberapa titik ada tanah liat yang becek saat musim penghujan. Tapi itu semua terbayar kala sampai di pantai. Posisi pantai tanjung Ann berhadapan dengan bukit yang hijau. Kami mencoba untuk naik ke atas dan gambar yang kami peroleh is astonishing!
Visit Lombok 2017
Pantai Tanjung Ann, Lombok

Visit Lombok 2017
Pemandangan Pantai Tanjung Ann dari Atas Bukit


Cukup dengan membayar uang parkir 5 ribu, kita bisa sepuasnya menikmati pantai ini. Tidak seperti pantai Kuta, pantai ini sepi sehingga kami bisa menikmatinya bak pulau privat. Hahaha. Berenang di dalam air yang jernih dan bersandar di pasir putih adalah nuansa berkunjung ke pantai Ann. Kalo lapar, bisa berkunjung ke pedagang tradisional di sekitar lokasi. Harga Indomie telurnya hanya 10 ribu. Disini juga ada penjual cilok dengan harga yang sangat terjangkau. Soal perut gak ada masalah disini. Oh iyah, disepanjang jalan di Kuta, kami tidak menemukan pom bensin. Ada baiknya untuk terlebih dahulu mengisinya. Namun disepanjang jalan ada pengisian pom bensin pertamini. Kami hanya menghabiskan bensin 20 ribu untuk berkeliling di spot wisata yang ada di Lombok tengah.

Hari Kedua (4 April 2017)
Kita mulai pagi ini dengan menentukan rencana fixed setelah beberapa hari sebelumnya kita mencari informasi mengenai spot yang ada di Lombok. Perjalanan kali ini kami niatkan untuk ke arah timur. Satu spot yang sangat terkenal di Lombok timur adalah pantai pink. Perjalanan jam 9 pagi ini menempuh jarak 55 km dari Praya. Perjalanan kami kali ini menyebrang kabupaten. Perjalanan ditempuh dua jam karena jalan menuju kesana sangat menantang. 5 km sebelum sampe di pantai, jalanan berkerikil dan tanah liat yang licin kami lalui nyaris dengan kecepatan 15 km/jam. 



Kondisi jalan 5 km sebelum nyampe di pantai pink.

Sesampainya kami di pantai Pink, karena perut keroncongan kita makan cilok dulu. Harga 5 ribu, cukup bisa untuk mengganjal. Kemudian kami ke warung Jawa yang ada di pinggir pantai. Makan Nasi campur menu TTS (telur, tempe, sayur) hanya 15 ribu. Sebagai minuman, saya pesan kelapa muda 15 ribu. Haga ikan bakar dan nasi 35 ribu dan kopi 5 ribu. Di tempat makan ini terdapat toilet dan tempat sholat. Pemilik toko sangat baik memperbolehkan kami menitip tas untuk lebih menyusuri keindahan alam pantai pink.

Well, pantai pink pada workdays tidak dikunjungi wisatawan dalam jumlah yang banyak. Biaya masuk pantai ini cukup dengan membayar biaya parkir sebesar 5 ribu. Disini, kita bertemu dengan banyak turis asal negeri Jiran (sepertinya Lombok punya kekhasan tersendiri, yakni sebagai halal tourism). Setelah makan, kami terlebih dahulu jalan ke bukit untuk mengambil gambar dari atas.

Pink Beach Lombok Indonesia
Foto Selfie Di Atas Bukit di Sebelah Pantai Pink, Lombok

Diatas bukit ini, kami tidak sendiri. Disini ada beberapa hewan ternak masyarakat seperti kambing, ayam dan kerbau. Diatas bukit merupakan padang rumput yang cocok untuk hewan ternak. 



Visit Lombok 2017
Makan yang banyak kerbau supaya dagingmu banyak
Kami menghabiskan waktu sampai sore disini karena kami tidak menemukan lokasi yang lain. Well, pantai pink sebenarnya ada di dua spots. Ada yang di selatan dan ada yang utara. Kami pulang jam 4.30 dan di perjalanan pulang, kami bertemu dengan rombongan pengantin. Sebuah tontonan yang menarik mereka masih memegang teguh adat mereka meskipun tak henti-hentinya didatangi oleh turis mancanegara dan kencangnya arus globalisasi. By the way, semoga saya juga dimudahkan untuk mendapatkan jodoh. 

Suku Sasak Lombok
Long March arak - arakan pernikahan di Lombok

Hari Ketiga (5 April 2017)
Perjalanan kami pada hari ketiga ini ialah menuju ke Lombok Bagian Barat. Di bagian barat pulau ada kabupaten Lombok Barat dan Kota Mataram, Ibu kota provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Spot pertama kami adalah pusat pengrajin perhiasan di Sekarbela, Kota Mataram. Daerah ini merupakan pusat pembuatan sekaligus penjualan perhiasan. Tidak heran daerah yang terletak di jalan Sultan Kaharuddin ini ramai dikunjungi pemburu perhiasan. Mutiara merupakan komoditi terkenal disini. Perhiasan yang ada di daerah ini sangat beragam baik dari segi model maupun harga.
Kami mampir di toko emas dan mutiara Firdaus Angkasa. Pada kesempatan ini saya tidak hanya belajar membedakan antara emas, platinum dan rhodium serta logam lainnya, tapi saya juga belajar memasang mata cincin berupa mutiara. Terima kasih atas keramahan mas Farhan dan mbak Linda atas jamuannya. Kalo teman-teman mau membeli perhiasan mampir ke toko ini. Dijamin menemukan harga yang pas.

Pembuatan Cincin Mutiara
Belajar memasang mata cincin mutiara di Sekarbela, Mataram, NTB
Mari Berkunjung
Kami mampir di toko emas dan mutiara Firdaus Angkasa. Pada kesempatan ini saya tidak hanya belajar membedakan antara emas, platinum dan rhodium serta logam lainnya, tapi saya juga belajar memasang mata cincin berupa mutiara. Terima kasih atas keramahan mas Farhan dan mbak Dinda atas jamuannya. Kalo teman-teman mau membeli perhiasan mampir ke toko ini. Dijamin menemukan harga yang pas. Selepas dari pusat pengrajin perhiasan kami kemudian berkunjung ke pantai Senggigi. Ini merupakan pantai yang paling terkenal di daratan Lombok dan yang paling ramai. Terdapat resort, hotel, dan restoran yang fancy. Menurut saya, Senggigi adalah pantai yang paling ramai yang ada di Lombok. Cukup dengan membayar uang parkir 10 ribu untuk kendaraan roda empat, kita bisa mengunjungi pantai ini. Terima kasih atas mas Farhan yang telah meluangkan waktu  Daerah di sekitaran pantai Senggigi sangat ramai di malam hari. Nuansa night life sangat terasa ketika kami pulang dari pantai.
Senggigi Beach Lombok
Nuansa pantai Senggigi Lombok di sore hari
Hari ke-empat (6 April 2017)
Setelah tiga hari penuh main ke pantai, akhirnya kami memutuskan untuk masuk lebih dalam ke daratan Lombok. Tujuan kami adalah mata air yang juga merupakan merek dari air minum kemasan di Lombok – Narmada. Narmada terletak di kabupaten Lombok Barat. Terletak 27 km dari Praya, tantangan untuk mencapai mata air Narmada cukup menantang. Sekitar 5 km sebelum sampai di mata air, kita terlebih dahulu melewati jalan berpasir dan berkerikil. Kadang kita harus melewati jembatan sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu motor saja. Hampir tidak mungkin mobil untuk mencapai daerah ini. 
Jembatan yang hanya bisa dilewati satu motor di jalur menuju Narmada 
Tapi, seluruh tantangan tersebut terbayar lunas ketika sampai di dalam. Biaya masuknya adalah 5 ribu per orang dan biaya parkir 5 ribu untuk kendaraan roda dua. Sekilas tempat ini mirip dengan Bantimurung yang ada di Maros, Sulawesi Selatan. Namun ketika kami menyusuri tempat air berasal, saya sangat terkejut melihat air yang keluar dari sisi batuan. Tak heran air yang dihasilkan sangat jernih dan sejuk. Saya berenang di kolam dekat dari mata air dan melihat beberapa ikan yang menemani keseruan di Narmada.
Narmada Lombok Spring Water
Mata air Narmada yang sangat sejuk
Spring water Narmada Lombok NTB
Ayunan di Narmada
Sayang sekali, kesadaran para pengunjung akan kebersihan tempat yang indah ini masih kurang. Di dasar danau terdapat banyak plastic. Padahal tempat sampah tak lebih dari 10 meter dari danau. Alam telah memberikan kita tempat yang indah ini, kenapa kita harus merusaknya. Alam bisa tetap asri bahkan tanpa memerlukan manusia. Tapi manusia akan selalu membutuhkan alam untuk keperluannya. Sampah kemudian kami kumpulkan, hasilnya lumayan untuk menjadi bukti bahwa kita masih mempunyai kesadaran yang minim terhadap kelestarian lingkungan.

Tumpukan sampah di dekat mata air Narmada
Area ini masih sangat sepi. Mengunjunginya di work days akan memberikan suasana liburan private. Dari seluruh tempat yang saya kunjungi, Narmada-lah yang paling asik. Tak perlu khawatir jika lapar di tempat ini, ada banyak penjual yang selalu menawarkan jajanannya. Tersedia sate, indomie rebus, cilok dan aneka jajanan lainnya. Harga sate dan lontong adalah 20 ribu dan harga kopi 5 ribu. Terdapat toilet dan ruang ganti gratis serta masjid di area wisata ini.

Selepas dari Narmada, kami melewati satu tempat wisata yang lain. Namun karena kami ada janji kami meneruskan perjalanan. Dekat dari tempat wisata alam tersebut, terdapat banyak monyet liar yang berbaris beraktivitas di atas pagar.

Kerumunan monyet di dekat tempat wisata Narmada
Agenda kami selanjutnya adalah bergabung bersama dengan pemuda Lombok yang keren untuk mengajarkan Bahasa Inggris ke anak – anak sekolah. Kami menjadi sukarelawan disana bersama dengan bule dari Prancis. Waktu semakin gelap dan kami balik ke Praya lagi. Di Praya kami hanya pulang mengambil barang, dan kemudian lanjut perjalanan lagi ke Mataram menuju ruko mas Farhan. Kami memutuskan untuk bermalam di Mataram mengingat kami besok ingin sampai di Senggigi sepagi mungkin. Meskipun di guyur hujan dan jalan yang minim pencahayaan, kami meneruskan perjalanan. Terima kasih atas mas Farhan yang telah berbaik hati menampung kami. Terima kasih juga untuk sarapan pagi dan kopi yang hangat yang telah diberikan kepada kami.

Hari kelima (7 April 2017)
Perjalanan menuju Gili Trawangan kami mulai dari Sekarbela Mataram. Jarak dari tempuh dari Sekarbela ke Bangsal, pelabuhan penyebrangan ke Gili, adalah sekitas 36 km. Terdapat dua jalur, jalur senggigi atau jalurJalan H. Mansyur. Awalnya kami memutuskan untuk mengambil jalur H. Mansyur namun karena terdapat longsoran, kami memutar arah melewati jalur senggigi. Perjalanan sangat menyenangkan. Jalan berbukit dan berliku kami lewati dan disuguhi pemandangan pantai yang bisa dinikmati dari ketinggian.  Jalanan sangat lenggang dan lancar.

Di Bangsal, kita bisa parkir motor sehari atau sampe bulanan. Biaya parkir sehari untuk roda dua adalah 5 ribu. Biaya masuk per orang adalah 2.500 dan biaya penyebrangan ke Gili Trawangan adalah 15 ribu. Perlu diketahui bahwa Gili berarti pulau kecil. Ada tiga Gili yang dapat dikunjungi dari Bangsal - Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Di loket pembelian tiket aka nada makelar yang akan menawarkan jasa snorkeling. Bangsal terletak di kabupaten Lombok Barat. Kami sampai sekitar pukul 8.30 dan mencari informasi wisata.

Singkat cerita kami memutuskan untuk snorkeling dan tidak menginap di Gili mengingat kita harus ke Lombok timur di keesokan harinya. Kami dijadwalkan untuk memulai snorkeling jam 9.30. Saya rasa kita akan sampai tepat waktu di Gili Trawangan. Namun cuaca pada pagi itu tidak bersahabat, perjalanan kami di tunda dan kami menunggu sampai hujan reda. Tidak ada jadwal fix kapal penyebrangan ke Gili. Namun perlu diingat loket hanya melayani sampai pukul 4.30. Kapal akan berangkat ketika jumlah penumpang dirasa cukup. Alhasil, kami terlambat sampai di Gili dan mengira tiket kami hangus.

Akhirnya kami menelpon makelar tersebut dan menanyakan nasib kami. Hahaha. Well, singkat cerita lagi, kami ditawarkan untuk pindah ke tempat penyedia snorkeling lainnya. Namun kami harus menambah biayanya 25 ribu. Sebelumnya kami membayar 125 ribu untuk 4 spots diving. Kami tidak ada pilihan, daripada tiket hangus, kita ikut ke jasa snorkeling ini. Ketika saya bertanya ke makelar itu, “kok biayanya nambah sih?” Kata dia “karena spots-nya menjadi lima.” Well, padahal tidak demikian spots yang kami kunjungi hanya malah 3. Again, sangat perlu berhati-hati terhadap makelar yang ada di penyebrangan ini.

Kami sangat menikmati waktu kami di Gili. Kami snorkeling di 3 spots di masing-masing Gili dan melihat aneka karang dan biota laut berenang bersama kami. Jasa snorkeling ini sudah termasuk snorkel dan optional items seperti fins dan jaket pelampung. Ada sekitar 30 orang diatas boat dan hanya ada 6 orang Indonesia. Yah, berada di Gili serasa bearada di luar negeri. Hahaha. Alay. Kami tidak mengambil foto saat snorkeling, soalnya banyak aurat. hahaha 

Gili island Lombok
Pantai Gili Lombok

Hari ke enam (8 April 2017)
Hari terakhir kami di Lombok kami ingin habiskan untuk bercengkerama dengan orang Lombok. Kami ke kabupaten Lombok Timur, di bawah kaki gunung Rinjani kami menghadiri pesta pernikahan salah satu kenalan yang kami tahu dari workaway.com. Pesta pernikahan dibalut dengan nuansa adat dan diiringi oleh alat music tradisional seperti gamelan dan seruling. Setelah menghadiri pernikahan, kami menghabiskan waktu berdiskusi dan bermain bersama pemuda di Sapit, kabupaten Lombok Timur. Ditemani oleh kopi hitam khas Lombok yang tumbuh disekitar daerah tersebut kami berbagi pengalaman. Yang sangat menarik, saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada pemuda setempat yang peduli terhadap pembangunan daerah mereka. Mereka membuka pembelajaran Bahasa inggris kepada pemuda dan anak – anak  tanpa dipungut biaya. Mereka bahkan mengundang para wisatawan asing untuk mengajarkan Bahasa inggris. Mereka menjual kopi dan menggerakan masyarakt untuk membangun desa yang penuh potensi tersebut. Terima kasih atas mas Maman dan kawan – kawan serta Canvas Coffee telah menjamu kami dalam perjalanan ini. 

Traditional Wedding concept sasak Loimbok
Traditional wedding in Lombok
Canvass Coffee Lombok NTB
Berdiskusi dengan pemuda Sapit, Lombok Timur NTB.
Perjalanan di Lombok sangat menyenangkan. Lombok yang penuh dengan keindahan alam dan keramahan warganya masih menyimpan potensi yang sangat besar yang perlu sama-sama kita kembangkan. Namun aku sangat senang bisa berkunjung ke tempat ini sebelum diserbu oleh para wisatawan yang tak bertanggung jawab. Lombok masih sangat asri, kuharap Engkau tak akan rusak dihancurkan oleh keserakahan manusia.

Popular posts from this blog

KULIAH DI TEKNIK PERTAMBANGAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

Backpacker ke Toraja dari Makassar - Blogger

Camping di Bulusaraung